Menangislah

Sore ini langit kembali berkumpul di satu titik, menunjukan geramnya dan berubah menjadi hitam pekat melupakan biru carrebian yang indah, dan seringkali bergumam seperti genderang di pukul penuh emosi, gemuruh sebentar tetapi berarti.
Sama seperti hatiku saat ini, pekat kelam, ingin mencari sebuah cahaya, tapi tak kunjung kutemukan, aku berada dalam siklus yang paling kubenci dalam sebuah cerita, yang ada hanya dua pilihan.
Putus asa
Dan
Terus tersakiti
Sungguh pilihan yang tak berarti menurutku.
Ku bersandar, ku nyalakan rokok teman setiaku selagi sepi menunggu mati, ku hisap dalam dalam sedalam rasa sakit yang kurasakan, dan ku hembuskan perlahan seperti sedang mengeluarkan rasa sakit tak berujung.
Kenapa selalu begini ?
Kenapa harus diriku ?
“ANJING” kataku dalam hati
“GOBLOK” seruku semakin dalam
“BANGSAT” teriakku semakin hanyut saja dalam emosi
Terlalu lelah untuk selalu seperti ini, sepertinya hati kecilkupun ikut ambil bicara, mengingatkanku akan dunia luar yang indah mempesona.
Aku bimbang, aku rentan, aku hina, aku lemah, aku terkubur, aku pecah, aku pedih, aku retak, aku terluka, aku hitam, aku sampah, aku anjing, aku tumbang, aku cacat, aku ……… , menangislah menangislah seluruh sel sel dalam tubuhku, biarkan terobati dengan sendirinya.
Di saat semua sel dalam tubuhku menangisi semua luka, pedih, hitam, ada saatnya aku menyeruakan dengan lantang satu kata “CUKUP !!”

Advertisements

2 thoughts on “Menangislah

  1. olpolypop says:

    emosiiii, dan dalaamm. woowww

Leave a Reply, Folks.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: